Di sebuah kantin..
“Heh, bengong aja kamu! Kenapa?”, tanya seorang laki-laki tinggi itu sambil cengar-cengir.
“Eh, kak Fajri. Aku cuma lagi diem aja sendiri”, jawab Mecca kalem.
“Iya sama aja bengong, bego. Nggak ada yang nemenin sih, hahha”, ejek Kak Fajri sambil sambil mencubit pipi Mecca.
“Ahh, mentang-mentang udah punya Kak Seira, seneng banget sih ngejek aku kayak gitu, huh!”, protes Mecca.
“Kok jadi ngomongin aku?”, Kak Seira tersenyum datang sambil membawa nampan penuh makanan.
“Hahha, nggak kok Ra, aku cuma ngejailin nih anak”, jawab Kak Fajri lembut. “Yaudah maaf ya adikku sayang”.
“Iya iya dimaafin, gantinya traktir aja nanti di kafe coklat yang baru buka itu yah, gak usah protes”, jawab Mecca.
Seorang cewek bernama Mecca Reinamila atau Eca ini sangat sangat menyungkai sesuatu sesuatu yang berbau coklat. Tapi jangan salah, anak bungsu dari dua bersaudara itu tak memiliki semua barang berbau coklat ia suka, seleranya sangat unik. Dari mulai barang-barang pribadinya, dan makanan yang berbau coklat yang ia miliki mempunyai ciri khas tersendiri yang orang lain pun tak bisa menyadarinya. Yang ia pikirkan, seleranya itu hanya ia yang tahu dan mengerti kenapa semua yang berbau coklat ia suka dan ia miliki itu punya arti dan kesan tersendiri. Hmm…
“Ide kamu gak bakalan ditolak kok Ca”, Kak Seira mendukung. Kak Fajri hanya mengerutkan kening saja. Merekapun makan sambil bercanda ria menikmati waktu istirahat sekolah.
Bel sekolah pun berbunyi menandakan mereka harus kembali ke kelas masing-masing. Eca pun duluan meninggalkan kantin. Di dekat madding sekolah, berdirilah sosok tubuh yang tegap. Eca pun menepuk bahunya..
“Hai Al. Lagi ngapain disini? Udah bel tuh”, sapa Eca, tersenyum.
“Eh, hmm , hai jg Ca. Gue lagi liat-liat keadaan madding aja, minggu ini kita belum ngisi nih madding”, jawab Albi.
“Iya, gue lagi nyari ide. Ntar pulang sekolah kita diskusi bentar yuk” ajak Eca semangat.
“Oke. Eh ayo kita ke kelas, keburu ada guru nih”, ajak Albi. Albi dan Eca pun pergi ke kelas bersama.
Pulang sekolah, mereka berdiskusi soal mading SMAN Bintang Pelita yang seharusnya mereka warnai dengan info-info yang menarik. Setelah bertukar ide-ide menarik..
“Lu mau bareng nggak?”, tanya Albi.
“Ayo, kebetulan lagi kanker nih, hehhe”, jawab Eca nyengir.
“Kapan lu gak kanker sih, hahha”, ejek Albi membuat Eca cemberut sendirian. “Daripada gua ngeliat lu manyun gitu, lebih baik gua ke parkiran aja ngambil motor ya. Ntar tunggu di depan aja, cepetan ya jangan lelet”, lanjut Albi. Eca pun mengangguk setuju.
Di depan sekolah..
“Ayo Ca”, ajak Albi. Tak lama terdengar suara klakson mobil di depan mereka. Kaca mobil pun perlahan terbuka dan terlihat sesosok wajah menatap mereka yang tak asing lagi untuk Eca.
“Siapa itu?”, tanya Albi bengong, aneh.
“Al, maaf gua pulang duluan ya. Makasih udah mau nganter. Daaah”, jawab Eca terburu-buru. Eca berlari menuju mobil itu, terlihat sangat senang dan pergi meninggalkan Albi sendiri. Albi hanya mengerutkan kening dan pulang dengan rasa aneh pada Eca. Yang ia pikirkan hanya, siapa cowok tadi.bersambung ...
:)





0 komentar:
Posting Komentar